Wisata Gunung Bromo Jawa Timur

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Kawasan Konservasi TNBTS berada di wilayah Malang, Pasuruan, Lumajang dan Probolinggo

kuda tengger di bukit hijau kaldera bromo

Penunggang Kuda Orang Tengger

warga dan budaya asli yang mendiami kawasan Gunung Bromo dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

gunung bromo diakses dari malang jawa timur

dari Pananjakan melihat Bromo

Panorama sunrise tercantik yang bisa dinikmati di Seruni point, Pananjakan satu dan Pananjakan dua.

destinasi utama bromo

Destinasi

Kawasan Bromo Tengger Semeru, Kawah Ijen, Baluran dan Pantai Sendang Biru dan Pulau Sempu

wisata bromo

Midnight Bromo Trip

IDR 325.000/pax

bromo adventure

Adventure

Sunset dan Sunrise, Trekking, Rafting, River Tubing, Beach Holiday & Animal Wildlife.

Wisata Gunung Bromo

Bromo Tengger Semeru

Jumat, 01 April 2016

Paralayang di Gunung Banyak Kota Batu

wisata paralayang batu
Keberadaan wisata paralayang di Kota Batu Malang merupakan kabar yang menggembirakan bagi masyarakat Jawa Timur, terutama bagi pecinta olah raga / wisata ekstrim, jika dulu mereka hanya bisa menyaksikan paralayang dari TV atau internet, sekarang mereka tidak perlu jauh-jauh lagi untuk mencoba olah raga ini.
Paralayang adalah olah raga terbang bebas dengan menggunakan parasut yang lepas landas dengan menggunakan kaki, dari lereng gunung dengan memanfaatkan angin
Dulu kegiatan ini hanya di tujukan bagi atlit-atlit olah raga dirgantara, seiring dengan perkembangan jaman, paralayang menjadi kegiatan wisata.

wisata petualangan di batu
Kota Batu dari sudut pandang Mata Elang, dengan aktivitas paralayang anda bisa menikmati keindahan Kota Wisata Batu dari ketinggian.
Wisata paralayang ini terletak di wilayah Gunung Banyak,sebelah barat laut Kota Batu berbatasan dengan Pujon. Mengacu pada hasil survey team PON XV Gunung Banyak di tetapkan sebagai tempat paralayang terbaik di Jawa Timur bahkan Indonesia, karena ketinggian puncak ( 1.350 m dpl), ketinggian lereng 340 meter, jarak sampai ke tempat landing (1300 meter) angin yang bertiup cukup kencang tapi stabil, semua unsur itu memenuhi syarat ideal tempat paralayang yang baik.

Tempat pariwisata paralayang ini di resmikan pada tahun 2000, dan sejak itu sering di gunakan untuk even kompetisi olahraga dirgantara baik secara lokal maupun nasional.

Meloncat dari Puncak Gunung Banyak, Batu

panorama pagi di kota batu dipuncak gunung banyak
Sunrise Gunung Banyak,  datanglah ke puncak gunung Banyak sebelum pagi, sambil menunggu saat mentari pagi mulai aktif menyinari permukaan kota Batu
Wilayah Gunung Banyak adalah termasuk kawasan hutan lindung yang di kelola oleh Kantor Pemangku Hutan Pujon. Pohon yang banyak terdapat di sana adalah pohon Pinus dan Eukalibus, satwa yang sering dijumpai adalah burung elang dan ayam hutan.

Kondisi Gunung Banyak yang didukung dengan punggung bukit yang memanjang, memungkinkan untuk di lakukan semua jenis terbang paralayang, lokasi meluncur di puncak gunung cukup luas untuk persiapan terbang, di dukung oleh angin yang stabil, membuat Federasi Aerosport Indonesia (FASI) dan Federation Aeronautique Internationale (FAI) menilai bahwa lokasi di Gunung Banyak paling layak untuk menggelar pertandingan paralayang tingkat dunia.

Akses Menuju Gunung Banyak

di puncak gunung banyak batu
Lokasi wana wisata Gunung Banyak bisa di akses dari Kota Batu dan Pujon Kabupaten Malang. Kondisi jalan mulus dan lancar, kendaraan roda empat dan roda dua bisa parkir di lokasi. Sepanjang jalan menuju lokasi anda akan di suguhi pemandangan indah perbukitan dan jajaran pohon pinus yang cantik.

Sampai di lokasi paralayang, anda akan dibuat takjub dengan pemandangan indahnya Kota Batu dari ketinggian, saat memandang ke arah selatan tampak Gunung Panderman dan Gunung Kawi, jika anda lanjutkan menoleh ke utara nampak Gunung Biru dan Gunung Welirang. Sedangkan pemandangan dari arah barat terdapat Gunung Dorowati dan Gunung Argowayang.

panorama kota wisata batu dari ketinggian
Panorama keindahan ini akan nampak makin cantik saat malam hari, kerlip lampu kota berpadu dengan kerlip bintang dan sinar bulan, di tambah lagi syahdunya suasana gunung di malam hari. Keindahan ini telah tersohor, terutama bagi keluarga dan muda mudi, maka tidak mengherankan jika cuaca sedang cerah saat Sabtu malam Minggu Gunung Banyak seakan tidak tidur, karena sangat ramai pengunjung yang ingin melewatkan malam panjang di sana. Bahkan bila cuaca cerah, anda masih akan dimanjakan lagi dengan pemandangan sunrise yang sangat menawan.

melayang diatas kota wisata batu
Kini paralayang sudah bisa dinikmati oleh semua orang, baik orang awam maupun professional. Anda tidak perlu ragu untuk mencoba, karena saat terbang di dampingi oleh pemandu yang trampil dan bersertifikat. Tiket yang dikenakan berkisar antara Rp.350.000,- sampai Rp.600.000,-.

Setelah tiket di tangan anda, kemudian mengantri giliran untuk terbang. Pemandu akan mempersiapkan memasang parachute dan perlengkapannya, setelah semua siap anda akan di pandu menjelajahi Kota Batu dari ketinggian.

Tips Wisata Paralayang

terbang diatas kota wisata batu
Karena termasuk wisata/olah raga ekstrim maka perlu persiapan fisik dan mental yang prima. Jangan lupa kamera dan tongsis untuk mengabadikan pengalaman seru anda terbang tinggi di langit Kota Batu.

Usahakan datang pagi hari, karena lokasinya di pegunungan, biasanya akan timbul kabut setelah tengah hari, hal ini akan menghalangi pandangan anda untuk menikmati pemandangan di sekitar anda.

Kamis, 31 Maret 2016

Desa Wisata Gubugklakah

senja di desa gubugklakah
Gubugklakah adalah nama sebuah desa yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Jaraknya dari Kota Malang sekitar 23 km, desa ini merupakan pintu masuk utama menuju kawasan Bromo maupun pendakian menuju Semeru.

Lokasi yang strategis ini membuat masyarakat Desa Gubug Klakah tertarik untuk mengelola potensi desanya agar menjadi lebih “menjual”, sehingga kedepannya Desa Gubug Klakah tidak hanya menjadi jalur lintasan menuju Bromo atau Semeru, akan tetapi juga menjadi tujuan wisata bagi pengunjung Bromo atau Semeru.

Untuk mewujudkan itu, pada tahun 2010 beberapa anggota masyarakat sepakat membentuk Lembaga Desa Wisata ( Ladesta ) Gubug Klakah untuk menghimpun kekuatan masyarakat dan bersama-sama mengembangkan Desa Gubug Klakah menjadi Desa Wisata.

Ladesta berupaya dengan berbagai cara untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat sesuai dengan kemampuan yang sudah dimiliki oleh warga, misalnya untuk warga pemilik kebun apel, di tingkatkan usaha perkebunannya agar mampu menarik pengunjung untuk melihat kebun apel mereka dengan cara menata kebun apelnya agar tampak menarik, memelihara pohon-pohon apel agar berbuah lebat dan ranum sehingga pengunjung tergerak hatinya untuk mencoba memetik sendiri.

Demikian juga untuk homestay, Ladesta membimbing warga untuk menata rumahnya agar nampak bersih dan sehat sehingga layak untuk dijadikan penginapan, selain itu para ibu rumah tangga juga dibimbing untuk meningkatkan kemampuan memasak hidangan untuk tamu serta bagaimana berkomunikasi dengan tamu saat menginap agar tamu merasakan kehangatan kekeluargaan.

Kepada generasi muda Ladesta membimbing mereka untuk menjadi guide, di beri penyuluhan bagaimana berkomunikasi dan melayani tamu dengan baik, sopan dan menyenangkan. Bagi pemilik jeep mereka dibimbing untuk meningkatkan pelayanan kepada tamu, mulai dari penjemputan dari Kota Malang ke tujuan wisata dan berkoordinasi dengan sesama pemilik jeep untuk berbagi tugas. Demikianlah akhirnya masing-masing potensi ini bersinergi untuk kemajuan Desa Wisata Gubug Klakah.

Usaha yang keras dan sungguh-sungguh itu akhirnya menghasilkan buah yang manis. Pada tahun 2014 Desa Wisata Gubug Klakah menjadi juara III Desa Wisata tingkat nasional. Bahkan pada tahun yang sama Ladesta Gubug Klakah menjadi juara I tingkat nasional sebagai kelompok sadar wisata terbaik nasional.

Destinasi Wisata Desa Wisata Gubug Klakah

Desa Wisata Gubug Klakah memang kaya destinasi wisata, alamnya sangat mendukung dengan beberapa coban (air terjun) seperti Coban Pelangi, Coban Pancut dan Coban Gereja.

Ada juga wisata agroapel, hampir setiap rumah di daerah Gubug Klakah yang ada pekarangannya di tanami pohon apel, kondisi iklimnya memang cocok bagi pertubmbuhan optimal pohon apel, di sepanjang jalan di temui beberapa rumah yang menjual apel. Untuk memetik apel langsung dari pohonnya pengnjung di kenakan karcis sebesar Rp.20.000,- di sana anda boleh makan sepuasnya apel segar pegunungan, bila anda ingin membawa pulang, pengunjung membayar lagi seharga Rp. 20.000,-/kg.

Tahun ini destinasi pariwisata bertambah satu lagi, yaitu Wisata Agropolitan Sapi Perah. Di lahan yang cukup luas, pengunjung bisa melihat dari dekat pemeliharaan sapi dari hulu sampai hilir, bagaimana cara memelihara sapi, memberi makan, memandikan sapi, memerah susu sapi, di sajikan juga bagaimana cara mengolah produk susu yang dihasilkan menjadi permen susu,keripik susu, yoghurt dan keju. Ada juga pemanfaatan limbah sapi menjadi biogas.

Potensi lain adalah wisata susur sungai. Di Desa Gubug Klakah mengalir sungai Amprong, airnya berasal dari lanjutan aliran Air Terjun Coban Pelangi. Sungai Amprong juga termasuk hulu dari Daerah Aliran Sungai Brantas. Aliran arusnya memenuhi syarat untuk di jadikan wahana olah raga rafting dan tubing.

Fasilitas Wisata Di Gubug Klakah.

Sebuah kegiatan wisata mutlak membutuhkan fasilitas untuk memberikan kenyamanan dan pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Desa Wisata Gubug Klakah juga berusaha memberikan fasilitas terbaik kepada pengunjung. Sampai saat ini tercatat ada sekitar 70 an homestay yang memenuhi standart bagi penginapan nyaman yang dilengkapi dengan kamar mandi air hangat, TV, dapur untuk membuat minuman hangat, homestay juga menyediakan makan.

terminal dan pusat informasi kunjungan wisata bromo
Tersedia juga rest area yang cukup luas bagi anda yang ingin melepas lelah sambil menikmati pemandangan perkebunan sayur di perbukitan. Sarana beribadah tersedia, ada beberapa masjid dan mushala . Walaupun tidak ada restoran yang besar, akan tetapi ada beberapa warung makan yang siap melayani anda.

Mengingat jalur ke Bromo dari Gubug Klakah yang curam naik turun dan menikung tajam, maka sarana transportasi yang cocok menuju Bromo adalah Jeep. Untuk itu Desa Gubug Klakah juga menyediakan fasilitas transportasi persewaan jeep. Pengunjung bisa memarkir kendaraannya di Gubug Klakah dan melanjutkan perjalanan dengan Jeep.

Wisata Budaya di Desa Gubug Klakah adalah Bantengan dan Kesenian Musik Islami Terbangan.

Bantengan merupakan suatu atraksi semacam kuda lumping, akan tetapi pada kesenian ini pemain menari seperti banteng. Musik Terbang biasanya di mainkan bersamaan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an pada acara keagamaan.

kesenian lokal desa gubugklakah
Desa Wisata Gubug Klakah juga terus melakukan inovasi untuk menggaet wisatawan sebanyak-banyaknya, diantaranya adalah dengan menciptakan souvenir khas Gubug Klakah yaitu kaos yang bisa anda pesan langsung di sana dengan sablon gambar pengunjung dengan background sesuai yang di inginkan , misalnya background Gunung Bromo atau Coban Pelangi dan lain sebagainya.

Ada juga souvenir lain yang sangat menarik yaitu Apel Kaligrafi. Anda bisa memesan tulisan sesuai keinginan anda di tubuh apel, menarik bukan?

Kalau anda ingin melihat bagaimana suasana wisata yang berbasis komunitas, maka Desa Wisata Gubug Klakah adalah pilihan yang tepat.

Rabu, 30 Maret 2016

Omah Kayu Gunung Banyak, Kota Batu

Omah Kayu di Batu, melengkapi fasilitas wisata alam di kota batu
Kota Wisata Batu, kini makin Berjaya menjadi kota tujuan wisata favorit di Jawa Timur, segala macam aktivitas wisata yang tidak di temui di kota lain, banyak terdapat di Kota Batu, sebut saja Musium Angkut, Jawa Timur Park, Museum Satwa, Musium Tubuh, Musium Topeng, Batu Secret Zoo dan masih banyak lagi yang lainnya. Hawa yang sejuk, makanan khas dari produk lokal seperti susu segar, ketan, berbagai macam produk apel , menjadi pendukung utama keberhasilan peningkatan wisata Kota Wisata Batu.

Seakan tidak puas hanya sampai di pengembangan theme park yang luar biasa, Kota Wisata Batu juga berusaha menciptakan wisata unik yang sensasional, salah satunya adalah pembangunan penginapan sekaligus lokasi wisata di ketinggian yaitu Omah Kayu.

Omah Kayu benar-benar mewakili keunikan penginapan yang menjadi daya tarik wisata baru. Ini akan sangat cocok untuk anda yang bosan dengan wisata mainstream. Omah Kayu di bangun menempel di pohon yang besar dan kuat, bahannya juga hanya dari kayu dan sedikit kaca untuk jendela,di desain unik berupa satu kamar dan teras berpagar kayu.

omah kayu, diantara pohon-pohon menjulang
Saat anda menginap di sana, pemandangan malam Kota Batu dan sekitarnya dari ketinggian sangat menawan, kerlip lampu yang menebar di hamparan yang sangat luas bisa dengan sangat leluasa anda nikmati, karena Omah Kayu ini memang sengaja di bangun menghadap langsung ke Kota Batu dan di ketinggian kurang lebih 1350 m dpl. Bayngkan jika anda berada di sana dalam hening malam sambil menikmati kopi di terasnya, sangat menakjubkan.

Hari berikutnya, pemandangan sunrise yang cantik juga bisa anda nikmati dari Omah Kayu, seriring dengan terbitnya sang fajar, anda juga bisa melihat gradasi warna jingga yang memancar menyelimuti langit Kota Batu.

Sebenarnya omah kayu tidak hanya sekedar penginapan di atas pohon, akan tetapi Omah Kayu juga menyediakan fasilitas wisata, bagi anda yang tidak mempunyai waktu cukup untuk bermalam di Omah Kayu, bisa juga menikmati sensasinya duduk di teras omah kayu untuk sekedar mengambil gambar.

omah kayu dan ramainya pengunjung
Bila pengunjung sedang ramai, anda harus mengantri untuk bisa mengambil foto, maklumlah , petugas membatasi kapasitas 4 orang setiap 5 menit.

Puas berfoto ria di Omah Kayu, anda bisa menyusuri jalan setapak yang di buat berundak dengan jalur dari satu omah kayu ke omah kayu yang lain. Ada sekitar 5 unit omah kayu yang ada di sana, di samping beberapa unit teras kayu. Lelah berjalan anda bisa duduk-duduk santai di bangku dan meja kayu yang disediakan di beberapa titik di sepanjang jalur. Atau bila anda suka, anda bisa berbaring di hammock sambil melepas lelah.

Omah kayu masih berada satu lokasi dengan tempat take off paralayang, oleh karena itu anda bisa juga melihat aktivitas olah raga paralayang dari dekat. Antara lokasi Omah Kayu dan Landasan pacu paralayang terdapat beberapa warung yang menyediakan makanan dan minuman, juga snack khas kota Batu.

Warung warung ini di bangun sangat unik, meja dan kursi terbuat dari kayu utuh tanpa tambahan bahan lain, benar-benar khas Omah Kayu. Sambil menikmati makanan, anda bisa melayangkan pandanganke jajaran perbukitan hijau dan hutan pinus yang alami. Sangat mengesankan.

Menginap di Omah Kayu

panorama kota Batu dari Omah Kayu
Untuk menginap di Omah Kayu, anda bisa melakukan reservasi langsung atau online. Tarif weekday Rp. 350.000,-/malam dan Rp.450.000,-/malam saat weekend. Fasilitas yang disediakan Omah Kayu adalah breakfast dan kamar mandi air hangat. Kapasitas maximum 3 untuk setiap 1 unit Omah Kayu.

Saat check out anda mendapatkan 2 bibit pohon yang harus anda tanam di sekitar kawasan Omah Kayu, anda juga di beri kesempatan untuk memberi tag pada tanaman itu dengan tulisan nama anda, kelak bila anda berkunjung lagi, anda bisa menjenguk pohon yang anda tanam, yahhh mungkin 5 atau 10 tahun lagi.

Kebayang kan, saat datang kembali tentu kenangan manis saat menginap dan menanam pohon itu akan tergambar lagi di memori anda.. Nostalgia yang manis di Omah Kayu.

Senin, 28 Maret 2016

River Tubing Ledok Amprong

River tubing Ledok Amprong
Kota Malang semakin lengkap saja aktivitas wisata yang di tawarkan. Ada wisata gunung, wisata pantai, wisata coban, citytour, wisata sejarah dan lain-lain. Kali ini kami akan mengajak anda melihat potensi wisata susur sungai di Kota Malang.

Adalah suatu daerah di lereng gunung Semeru di Kecamatan Poncokusumo yang bernama Desa Gubug Klakah. Disana mengalir Sungai Amprong yang merupakan bagian hulu dari wilayah DAS Brantas . Aliran hulu Sungai Amprong cukup deras yaitu mencapai 10 sampai 30 kilometer perjam. Pemandangan di sekitar sungai sangat indah, di batasi dengan tebing dari komplek perbukitan Tengger Semeru berdampingan dengan kebun milik masyarakat sekitar.

Potensi ini dimanfaatkan oleh masyarakat setempat bekerjasama dengan Perhutani untuk membuka kawasan wisata adventure yaitu River Tubing pada akhir tahun 2014. River Tubing adalah kegiatan menyusuri sungai dengan menggunakan ban karet dan menghanyutkan diri mengikuti aliran arus sungai. Pada dasarnya kegiatan ini aman di lakukan oleh setiap orang asalkan memenuhi syarat standart yaitu : tubuh dalam kondisi fit, tidak mempunyai cedera yang serius, tidak mudah panic , tetap tenang walau mungkin anda terlepas dari ban karet akibat benturan arus deras , ini adalah hal biasa dalam kegiatan river tubing.

Fasilitas Wisata River Tubing Ledok Amprong Malang

river tubing amprong
Dengan membayar tiket masuk sebesar R.5000,- anda bisa melihat –lihat pemandangan yang indah disepanjang aliran Sungai Amprong, atau bisa bermain air di pinggiran sungai yang jernih, tidak perlu takut andai badan basah, karena tersedia toilet dan kamar mandi untuk membersihkan badan. Ada juga gazebo untuk tempat ngobrol, jika lapar dan haus menyerang anda tinggal order makanan dan minuman di warung yang tersedia di dalam lokasi. Ada Mushola di dekat pintu masuk . Tempat parkir juga tersedia.

Bila anda tertantang untuk menikmati derasnya aliran Sungai Amprong, cobalah menyusuri sungainya dengan ban karet ( river tubing), semua fasilitas tersedia di sana, ada rompi pelampung, helm dan ban karet. Tarifnya berkisar 40 ribu sampai 120 ribu, tergantung jarak tempuhnya. Anda tidak pelu khawatir dengan safety, sebelum anda melakukan aktivitas ini ada briefing dan selama dalam perjalanan menyusuri sungai anda juga di dampingi pemandu yang sekaligus sebagai safety guard.

Akses menuju Ledok Amprong

Dari Kota Malang menuju ke arah Tumpang, dari Tumpang di lanjutkan menuju Desa Gubug Klakah. Dari Gubug Klakah menuju basecamp river tubing masih harus ditempuh sejauh 2 km lagi. Jalanan menuju basecamp masih sulit berupa macadam, berkelok dan menurun tajam. Karena base camp Ledok Amprong terletak di kawasan cekungan tanah yang rendah.

Dari Gubug Klakah menuju basecamp Ledok Amprong hanya bisa ditempuh dengan jeep, motor atau jalan kaki. Bila anda mengendarai kendaraan pribadi roda empat, sebaiknya anda parkir di Desa Gubug Klakah dan berganti jeep menuju basecamp tubing Ledok Amprong.

Begini Cara menikmati Sungai Amprong Dengan Tubing

Setelah membayar tiket di pintu masuk, silahkan parkir motor anda di tempat yang sudah di sediakan yaitu di sebelah kiri dari loket karcis. Selanjutnya menuju kantor operator tubing untuk mendaftar dan membayar biaya river tubing, untuk Trip 1 ( jarak tempuh 2,5 km, durasi 2 jam, free makan 1 kali, kopi) harga Rp.140.000,- ; Trip 2 ( jarak tempuh 1 km, durasi 1 jam, free kopi) harga Rp.80.000,- ; Trip 3 ( jarak 700 meter, waktu 10 menit) harga Rp.50.000,-.

Setelah registrasi selesai, anda akan di persilahkan untuk mengenakan kelengkapan tubing, seperti rompi pelampung, helm dll. Berikutnya adalah briefing oleh pemandu wisata, materi briefing adalah apa yang boleh dan tidak boleh anda lakukan selama mengarungi sungai dengan ban karet, seperti misalnya anda harus dalam posisi duduk saat berada di atas ban, tidak di perbolehkan untuk terlentang, cara mengendalikan ban dan lain-lain.

Setelah briefing selesai, anda akan di pandu menuju titik start, karena basecamp itu berada di titik finish. Bagi yang memilih Trip 1 akan ada ojek yang mengantar anda menuju titik start, sedang untuk trip2 dan trip 3 cukup berjalan kaki menuju titik start.

Dalam mengarungi sungai dengan ban karet, setiap peserta akan di pandu oleh dua orang, satu di depan dan 1 di belakang, jika melintasi sungai yang dalam dan jeramnya deras, maka pemandu akan berhenti dan mengawal anda. Jadi jangan ragu dengan keselamatan saat berpetualang di sana.

Tips wisata river tubing Ledok Amprong

Kalau anda naik motor, pastikan kondisi motor oke ya, karena jalan curam dan licin serta berbatuan. Persiapkan beberapa pakaian ganti, usahakan sudah melakukan pemanasan sebelum nyebur ke dalam sungai untuk memberi kesempatan kepada tubuh beradaptasi dengan suhu air .

Minggu, 27 Maret 2016

Suku Tengger Bromo, Dimensi Sosial dan Religius

suku tengger dan penunggang kuta
Gunung Bromo, adalah salah satu gunung berapi aktif di Indonesia, terletak dalam wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur. Secara administrative Gunung Bromo terletak pada 4 wilayah, yaitu Kabupaten Malang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Pasuruan. Bentuk tubuh gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera dan lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

Komunitas Suku Tengger menyebar pada 4 wilayah Kabupaten tersebut dan Gunung Bromo adalah merupakan pusat dari kehidupan dan kekuatan. Penyebaran ini merupakan misteri tersendiri, seperti menggambarkan kearifan kejawen yang berbunyi kiblat papat limo pancer, artinya komunitas Suku Tengger sebagai kiblat papatnya dan Gunung Bromo sebagai pancernya. Oleh karena itu mengapa Suku Tengger tidak bisa di pisahkan dari Gunung Bromo.

Penyebaran Suku Tengger di 4 wilayah, lebih nampak nyata pada beberapa wilayah, misalnya di Tosari Kabupaten Pasuruan, Sukapura Kabupaten Probolinggo, Ngadas Kabupaten Malang dan Ranupane, Senduro Kabupaten Lumajang.

Legenda Asal Usul Suku Tengger

berpose dengan ibu-ibu tengger
Kata Tengger, di kaitkan dengan keberadaan Rara Anteng dan Jaka Seger. Alkisah, pada zaman dahulu, ada seorang putri dari Kerajaan Majapahit bernama Rara Anteng. Pada satu masa, keadaan negeri Majapahit sedang memburuk, maka Rara Anteng bersama punggawanya mencari tempat hidup yang lebih aman dan tentram, sampailah dia di pegunungan Tengger di Desa Krajan, setelah satu windu, dia melanjutkan perjalanan menuju gunung Penanjakan dan bermukim di sana.

Sementara itu, Kediri juga kacau sebagai akibat situasi politik di Majapahit. Joko Seger, putra seorang brahmana, mengasingkan diri ke Desa Kedawung sambil mencari pamannya yang tinggal di dekat Gunung Bromo. Di desa ini, Joko Seger mendapatkan informasi adanya orang-orang Majapahit yang menetap di Pananjakan. Joko Seger pun melanjutkan perjalanannya sampai Pananjakan. Disinilah Joko Tengger dan Rara Anteng bertemu dan akhirnya menikah.

Sampai sewindu usia pernikahan mereka, akan tetapi belum di karuniai anak, maka pasangan suami istri ini memutuskan untuk melakukan semedi mengharap kepada sang hyang widi agar di karuniai anak, mereka bertapa selama 6 tahun dan setiap tahun berganti kiblat. Akhirnya permintaan mereka di kabulkan dengan syarat anak terakhir harus di korbankan di kawah gunung Bromo.

Bertahun kemudian, pasangan ini tidak menepati janji karena tidak rela mengorbankan anak terakhirnya yang di beri nama R Kusuma ke kawah Bromo, akhirnya dari kawah Bromo terdengar suara gemuruh dan mengeluarkan api. Pasangan ini sadar bahwa kawah Bromo menuntut janji agar di tepati. R Kusuma kemudian disembunyikan di sekitar Desa Ngadas. Namun semburan api itu sampai juga di Ngadas. R Kusuma lantas pergi ke kawah Gunung Bromo. Dari kawah terdengar suara R Kusuma supaya saudara saudaranya hidup rukun. Ia rela berkorban sebagai wakil saudara-saudaranya dan masyarakat setempat.

Ia berpesan, setiap tanggal 14 Kasada, agar di beri sesaji berupa hasil bumi, peristiwa inilah yang kemudian merupakan cikal bakal perayaan Kasada di kalangan masyarakat Tengger.

Kehidupan Sosial Suku Tengger

kuda dan tengger bromo
Gunung Bromo bagi masyarakat Tengger adalah juga merupakan pusat interaksi social, setiap tahun mereka berkumpul untuk berinteraksi satu sama lain, beribadah bersama. Mereka mempercayai bahwa nenek moyang mereka berada di dalam Gunung Bromo, oleh karena itu banyak perayaan upacara yang mereka lakukan adalah bagian dari pemujaan nenek moang yang mereka lakukan di kaki dan kawah Gunung Bromo.

Masyarakat Tengger sangat menjunjung tinggi falsafah tentang hubungan antar manusia yang di ajarkan oleh nenek moyang mereka, yaitu : setya budaya ( taat, tekun, mandiri), setya wacana (setia pada ucapan), setya semaya (setia pada janji), setya laksana (patuh, tuhu,taat) dan setya mitra (setia).

Profil Masyarakat Suku Tengger

Masyarakat Suku Tengger mempunyai ciri khas dalam penampilannya, yaitu menggenakan sarung, dalam istilah mereka disebut kawengan. Sarung digunakan penghangat dari serangan angin dingin yang menusuk tulang, selain harganya murah, sarung mudah didapat dibandingkan pakaian hangat lainnya.

Agama Hindu Tengger

Mayoritas masyarakat Suku Tengger memeluk agama Hindu, akan tetapi agama Hindu yang di anut oleh masyarakat Suku Tengger tidak sama dengan agama Hindu di Bali. Perbedaan antara agama Hindu di Bali dan agama Hindu masyarakat Tengger adalah masyarakat Tengger masih menganut kepercayaan dan tradisi lama yang pernah berkembang pada jaman Majapahit seperti cara bersaji, berkurban, berdoa, menari tarian suci, tidak berlaku sistem kasta. Persamaannya adalah pada masyarakat Tengger juga mengenal Padmasari dan Padmasana.

Padmasari adalah tempat pemujaan yang didirikan di depan rumah , sedangkan Padmasana adalah tempat pemujaan di setiap Pura yang terdapat di setiap desa sebagai tempat ibadah atau sanggar pemujaan.

Keluarga dan Kekerabatan Suku Tengger

Seperti kehidupan keluarga pada umumnya, masyarakat Tengger juga berusaha mensejahterakan keluarga dengan terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan dan papan, hanya saja dalam penerapan kehidupan berkeluarga sehari-hari selalu menekankan juga pada penerapan adat istiadat yang sudah berlaku sejak jaman nenek moyang mereka.

Bagi masyarakat Suku Tengger keharmonisan hubungan antar keluarga menjadi salah satu jalan menuju kesempurnaan hidup. Masyarakat Tengger tidak mengenal nama Marga (keluarga) karena di dalam Masyarakat Tengger tidak mengenal Kasta, biasanya cara memanggil nama orang yang sudah berkeluarga dan mempunyai keturunan,dipanggil dengan nama anak pertamanya. Budaya Tengger yang unik lainnya adalah mengharuskan setiap anak laki-laki yang lahir pada hari Wage (sistem penanggalan jawa) untuk mengenakan anting di telinga kiri.

Hingga kini, warga Tengger masih belum mengetahui maksud dan tujuan budaya ini, hanya sesepuh dan dukun Tengger saja yang memahami makna tersebut.

Bahasa Sehari-hari Masyarakat Tengger Bromo

Komunikasi antar anggota masyarakat Suku Tengger adalah bahasa Jawa Tengger, dimana bahasa daerah ini masih berbau Jawa Kuno, akan tetapi mereka tidak menggunakan tingkatan bahasa seperti bahasa Jawa yang dipakai pada umumnya.

Mata Pencaharian Masyarakat Tengger

Masyarakat Tengger sebagian besar hidup dengan bercocok tanam/berladang. Struktur tanah yang berbukit-bukit bukan hal yang mudah untuk mengolah tanahnya, mereka menggunakan sistem terasiring , sumber air tergantung pada curah hujan, sumber air atau atau aliran air sungai.

Saat ini ada matapencaharian tambahan yaitu sebagai guide, menyewakan kuda, menyewakan rumah sebagai homestay, membuka restoran atau warung makan , membuka took souvenir, menyewakan jeep dan ojek bagi pengunujung yang akan menuju Bromo.

Pemimpin Suku Tengger

Secara formal pemerintahan dan adat masyarakat Tengger dipimpin oleh seorang Kepala Desa (Petinggi) yang sekaligus adalah Kepala Adat. Pemilihan Petinggi melalui pemilihan lngsung oleh masyarakat. Pemimpin Ritual / Upacara Adat adalah Dukun, pemilihan melalui beberapa tahapan (menyangkut diri pribadi calon Dukun) yang pada akhirnya akan diuji melalui ujian Mulunen (ujian pengucapan mantra yang tidak boleh terputus ataupun lupa) pada waktu Upacara Kasada bertempat di Pura Luhur Poten di kaki Gunung Bromo.

Pemukiman dan Rumah Tinggal

Pemukiman masyarakat Suku Tengger menempati lembah-lembah dan lereng perbukitan sekitar Gunung Bromo pada umunya berkelompok. Jarak rumah antara penduduk yang satu dengan lainnya sangat rapat, sehingga dapat dikatakan hampir tidak ada batasan yang tegas antara pagar rumah antara orang yang satu dengan pagar rumah orang yang lain. Keadaan semacam ini hampir merata diseluruh daerah pedesaan yang dihuni oleh masyarakat Tengger. Menurut mereka, bentuk perkampungan yang tidak mengenal pagar yang membatasi rumah-rumah penduduk adalah pertanda atau menunjukkan sikap hidup Masyarakat Tengger yang suka kerjasama dan gotong-royong.

Upacara Adat Masyarakat Tengger

Upacara Adat Karo

Hari Raya Karo adalah hari raya terbesar masyarakat Tengger. Tujuan penyelenggaraan upacara karo adalah mengadakan pemujaan terhadap Sang Hyang Widi Wasa dan menghormati leluhurnya.

Upacara Kapat

Upacara Kapat jatuh pada bulan keempat (papat) menurut tahun saka disebut pujan kapat, bertujuan untuk memohon berkah keselamatan serta selamat kiblat, yaitu pemujaan terhadap arah mata angin.

Upacara Kawolu

Upacara ini jatuh pada bulan kedelapan (wolu) tahun saka. Pujan Kawolu sebagai penutupan megeng. Masyarakat mengirimkan sesaji ke kepala desa, dengan tujuan untuk keselamatan bumi, air, api, angin, matahari, bulan dan bintang.

Upacara Kasanga

Jatuh pada bulan sembilan (sanga) tahun saka. Upacara diawali oleh para wanita yang mengantarkan sesaji ke rumah kepala desa, untuk dimantrai oleh pandita (dukun). Selanjutnya pandita dan para sesepuh desa membentuk barisan, berjalan mengelilingi desa dengan membunyikan kentongan dan membawa obor. Tujuan upacara ini adalah memohon kepada Sang Hyang Widi Wasa untuk keselamatan Masyarakat Tengger.

Upacara Kasada

Dilaksanakan pada saat purnama bulan Kasada (ke dua belas) tahun saka, disebut juga sebagai Hari Raya Kurban. Biasanya lima hari sebelum upacara Yadnya Kasada, diadakan berbagai tontonan seperti; tari-tarian, balapan kuda di lautan pasir, jalan santai dan pameran. Upacara Kasada bertujuan untuk memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit, yaitu dengan cara mempersembahkan sesaji dengan melemparkannya ke Gunung Bromo.

Sisi menarik lain dari Suku Tengger adalah makanan khas Suku Tengger. Ada Nasi Aron, Kue Kucur, sambel bawang (sambel botok), sayur bening nasi gelpungan, kentang bawang, dadar kentang , dan lain lain.

Sekilas tentang masyarakat Suku Tengger, semoga akan memperkaya khasanah pengetahuan budaya di sekitar kita, dan menambah kecintaan kita kepada budaya negri sendiri.

Pura Luhur Poten Bromo

pura luhur poten bromo
Inilah uniknya Bromo, selain mempersembahkan keindahan panorama alam gunung, bukit, lautan pasir, savanna , matahari terbit, juga mempersembahkan keindahan dan keluhuran budaya masyarakat yang berdiam di sekitarnya yaitu masyarakat Suku Tengger. Seperti kita ketahui, masyarakat Tengger tidak bisa di pisahkan dari Gunung Bromo dan Yadnya Kasada.

Bagi masyarakat Suku Tengger Gunung Bromo dan Pura Luhur Poten menjadi tempat yang suci dan penting baik dalam keseharian maupun dalam perayaan keagamaan. Pura Luhur Poten merupakan sebidang lahan dan bangunan mirip pura yang terletak di tengah lautan pasir ( tepatnya di antara Gunung Bromo dan Gunung Batok) sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada.

Pura Luhur Poten dibangun pada tahun 2000, dengan gaya arsitektur Jawa dan Bali. Bangunannya terdiri dari 3 zone atau mandala, yaitu : Mandala Utama (tempat pemujaan), Mandala Madya (tempat persiapan pengiringan upacara sembayang), Mandala Nista (peralihan pintu masuk ke dalam).

Mandala Utama, Tempat Pemujaan

pura luhur poten bromo
Di sebut juga jeroan, tempat pemujaan persembahyangan yang terdiri dari :

Padma: Fungsi utamanya adalah menjadi pemujaan kepada sanghyang widi atau Tuhan Yang Maha Esa, Padma tidak beratap terdiri dari bagian kaki ( tepas), badan (batur) dan kepala (sari) yang dilengkapi dengan Bedawang, Nala, Garuda dan Angsa.

Bedawang Nala ,lambang ini mencerminkan kura-kura raksasa yang mendukung padmasana, dibelit oleh dua ekor naga, garuda dan angsa posisi terbang di belakang badan padma yang masing-masing menurut mitologi melukiskan keagungan bentuk dan fungsi padmasana.

Bangunan Sekepat (tiang empat) fungsinya untuk penyajian sarana upacara atau aktivitas serangkaian upacara.

Bale Pawedan serta tempat dukun sewaktu melakukan pemujaan.

Zone Tengah Mandala Madya


Disebut juga jaba tengah, tempat persiapan dan pengiring upacara terdiri dari:

Kori Agung Candi Bentar, bentuknya serupa dengan tugu, kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar, segi empat atau segi banyak dengan sisi-sisi sekitar satu depa alit, depa madya, depa agung.

Bale Kentongan / bale kul-kul letaknya di sudut depan pekarangan pura, fungsinya untuk tempat kul-kul yang dibunyikan awal, akhir dan saat tertentu dari rangkaian upacara.

Bale Bengong/Pewarengan suci letaknya diantara mandala madya dan mandala nista. Fungsinya untuk mempersiapkan keperluan sajian upacara yang perlu dipersiapkan di pura yang umumnya jauh dari desa tempat pemukiman.

Zone Depan Mandala Nista

Disebut juga jaba sisi yaitu tempat peralihan dari luar ke dalam pura yang terdiri dari bangunan candi bentar/bangunan penunjang lainnya. Pekarangan pura dibatasi oleh tembok penyengker batas pekarangan pintu masuk di depan atau di jabaan tengah/sisi memakai candi bentar dan pintu masuk ke jeroan utama memakai Kori Agung.

Pura Luhur Poten mencapai puncak kunjungan wisatawan saat perayaan Kasada, bagi anda yang ingin menyaksikan kemegahan dan kesakralan Pura Luhur Poten saat Kasada, harus merencanakan sejak jauh jauh hari, segala fasilitas akomodasi di kawasan Bromo dan sekitarnya bisa jadi sudah full-booked bila anda terlambat.

Menuju Pura Poten Bromo, anda harus melintasi lautan pasir, bisa anda tempuh dengan jalan kaki,menyewa kuda, naik ojek motor atau jeep, tergantung pada pilihan anda. Untuk itu harus anda persiapkan masker dan kacamata untuk menghindari butiran pasir yang terbawa hembusan angina yang mungkin akan menerpa anda. Topi , sunblock atau payung sebaiknya anda sertakan dalam list barang bawaan anda, untuk menangkal terik matahari. Air putih jangan ketinggalan.
 
View More Posts

Wisata Jawa Timur

Bromo Story

Copyright © 2014 Wisata Bromo | info@explorebromo.com | supprort by MONSTER.WEB