Selasa, 20 Januari 2015

Bromo, Never Ending Story



Entah sudah berapa kali aku ke sini ?, yang aku ingat ini untuk yang kedua kalinya bersama keluarga. Bromo memang ”a never ending story”, tak pernah usai membicarakannya, dan tak pernah bosan mengunjunginya

Kali ini kami mengunjungi Bromo pada saat libur lebaran, sudah terbayang betapa padatnya Bromo di musim liburan lebaran. Kami memilih mengambil jalur Ngadisari sampai di Cemoro lawang. Dan benar... seluruh hotel penuh, semua homestay dipinggir jalan juga penuh, akhirnya kami ditawari oleh pemuda setempat sebuah rumah agak masuk ke dalam, dengan tarif seperti hotel berbintang di Surabaya, dengan dua kamar sederhana, dan kamar mandi diluar rumah, lumayan untuk istirahat malam ini, anak anak pun tidak keberatan dari pada tidur di mobil kata mereka....



Malam itu sekitar pk 21.00 WIB, kami baru tiba di terminal Ngadisari, disamping hotel Bromo Permai, untuk sekedar menghilangkan penat kami sempatkan dulu ngopi di cafe Bromo Permai, istirahat dan acara toilet... tidak enak rasanya kalo hanya numpang ke toilet karena kami bukan tamu hotel ini.

Tourist manca negara maupun lokal bebaur disini, berbagai bahasa dan dialek Eropa, Asia dan Indonesia bersliweran di telinga kami. Menarik juga mengamati tingkah mereka bercengkerama dengan bahasa masing masing tanpa saling terganggu. Selesai ngopi kami bergegas menuju penginapan dan tidur... karena malam ini hanya ada satu acara, tidur... mempersiapkan fisik buat besok pagi menjelajahi kawasan lautan pasir Bromo... itu cita cita anak anak sejak berangkat dari rumah... mereka tidak tertarik utk menyaksikan sunrise dari bibir kawah Bromo, mungkin karena pernah menikmatinya dari tempat yang lebih keren – Penanjakan, itu terjadi 2 tahun lalu



Pagi ini begitu cerah, langit nyaris tanpa awan, semburat sinar matahari pagi meyentuh segala yang ada di muka bumi, sepertinya semua menunggu terpaan sinar matahari itu, seperti juga kami, matahari bak dewa penghangat pagi...namun begitu, dinginnya udara masih tak terlawankan, biarpun matahari sudah condong keatas kami masih berbalut jacket, sarung tangan, slayer dan topi untuk menahan dingin....



Tak ada acara mandi pagi, bahkan cuci muka pun tidak, hanya gosok gigi ritual kamar mandi pagi itu. Ketika saya mengintip ke arah lautan pasir Bromo, seluruhnya masih tertutup kabut putih yang pekat, indah sekali.... Segera kami bersepatu dan sarapan di warung pinggir jalan Ngadasari, di sepanjang jalan ini memang banyak homestay dan warung-warung dengan menu khas Jawa dan harga normal bahkan untuk ukuran Jakarta harga makanan disini bisa kita sebut murah, padahal rasanya termasuk istimewa.



Selesai sarapan ”Hard Top” sudah menunggu, siap mengantar kami mengeksplore lautan pasir Bromo, tak lupa masker kami kenakan sebagai perlengkapan wajib saat ini, karena debu masih tinggi intensitasnya akibat erupsi yang terjadi beberapa bulan yang lalu....



Ngadisari


Adalah desa yang tenang, adem, tentrem, tanahnya subur, ditumbuhi sayur sayuran milik penduduk setempat, masyarakatnya disebut sebagai suku tengger memiliki tradisi Hindu yang masih terjaga hingga hari ini, mereka memiliki kepribadian yang santun dan bersahaja. Desa ini relative makmur, selain bertani, kebanyakan masyarakat tengger bekerja diberbagai bidang seputar pariwisata, ada yang membuka warung, menyewakan rumah utk penginapan, mobil utk tour, menyewakan kuda, menjadi guide dsb. Keberadaan Gunung Bromo sebagai tourist destination membawa berkah sendiri bagi masyarakat Tengger, konon suku Tengger adalah warga Majapahit yang melarikan diri dari kampung halamannya di akhir masa pemerintahan Majapahit.

Masyarakat Hindu Tengger mempunyai tradisi upacara Kasodo, ritual ini dilakukan setahun sekali di bulan kasodo atau kesepuluh untuk menghormati gunung Brahma (Bromo) yang dianggap suci oleh penduduk suku Tengger. Dilaksanakan di sebuah pura persis dibawah gunung Batok (sebuah gunung disebelah gunung Tengger) ditengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 – 15 dibulan kasodo menurut penganggalan Jawa.



Exploring Lautan Pasir Bromo


Dengan berkendara ”jeep” Hard Top, kami meluncur menuruni jalan langsung menuju lautan pasir Bromo, beberapa motor dan kuda kami lihat berlalu lalang dihamparan pasir Bromo ini, setiap gerak kaki kuda dan roda motor atau mobil pasti menerbangkan debu pasir ke udara, menyebabkan pandangan jadi kabur. Terpaksa jendela mobil harus ditutup supaya debu tidak masuk ke kabin, angin yang kencang juga turut menerbangkan pasir, bahkan dikejauan debu pasir itu sampai melampaui puncak Bromo, utk menembus debu ini masker dan kacamata wajib dikenakan agar mata tidak perih dan teriritasi



Bukit Teletubbies adalah lokasi pertama yang kami tuju, disebut demikian karena gundukan-gundukan bukit yang dulu hijau, bersih dan rapi itu layaknya bukit rumput hijau di film anak-anak ”Teletubbies” yang dulu terkenal. Bukit Teletubbies kini nampak coklat akibat kemarau panjang serta dampak dari erupsi Bromo tahun lalu yang memuntahkan pasir ke udara. Padang rumput disekitarnyapun nampak gersang, pasir dan debu sesekali beterbangan dibawa angin. Acara wajib : abadikan dengan photo..., karena seperti apapun kondisinya Bukit Teletubbies tetap mempesona..



Selanjutnya kami menghampiri ”Batusinga”, sebuah batu yang bentuknya mirip singa, terletak disekitaran ”pasir berbisik” entah kenapa dinamakan pasir berbisik, tetapi yang jelas hamparan pasirnya terbentuk layaknya gelombang air laut yang tenang, sejauh mata memandang bentukan gelombang pasir ini dilatarbelakangi gunung Bromo dan Gunung Batok, atau disisi yang lain dilatarbelakangi bibir kaldera Tengger menyajakan lukisan yang indah... langit yang cerah dengan sinar matahari yang lepas tanpa hambatan awan lebih menambah penampilan Bromo yang spektakuler, sekali lagi abadikan dengan photo

Kawah Bromo


Puas menikmati lautan pasir, kami bergerak menuju gunung Bromo, untuk mendaki dan menikmati fenomena kawah Bromo. Kami berhenti di lokasi yang dibatasi oleh patok-patok beton, patok ini sebagai penanda bahwa kendaraan dilarang melintas karena didalam areal yang dibatasi ini terdapat sensor pemantau gempa, dikhawatirkan jika kendaraan bermotor memasuki kawasan ini, getaran rodanya akan mengacaukan kerja sensor tersebut.



Turun dari Hard Top, beberapa pemilik kuda menghampiri kami menawarkan jasa naik kuda sampai ke tangga menuju kawah Bromo, tetapi kami sudah sepakat untuk melanjutkan dengan berjalan kaki, supaya ada sensasi ”hiking”-nya, si Cantik yang baru berumur 7 tahun pun setuju untuk berjalan kaki.



Kawah Bromo masih jauh, pura pun kelihatan kecil, tetapi kami tetap semangat, apalagi ternyata banyak pengunjung lain yg juga berjalan kaki, semakin menambah semangat anak-anak untuk terus berjalan, ditengah perjalanan kami sempet melihat kesebelah kiri, ke hamparan pasir, sebuah ”badai pasir” yg bergerak ke arah kami agak mengerikan melihatnya, maka kami ingatkan semua untuk pakai masker dan kacamatanya, serta tahan napas dan pejamkan mata saat badai pasir itu melintasi kami, dikejauhan, diarah puncak Bromo kami juga melihat debu pasir bergerak keatas melintasi puncak Bromo, seolah olah ia seperti asap yang bergerak ringan mengikuti kemana arah angin, ini luar biasa, tidak pernah kami temui kejadian seperti ini sebelum Bromo mengalami erupsi...



Tak terasa kami sudah melewati Pura dan kini berada di kaki gunung Bromo, setelah menuruni ngarai dan mendaki lagi menuju tangga, si Cantik mulai kelihatan lamban, tapi ia tidak menyerah, kami menyemangati, pasti bisa ayo maju.... begitu kakak-kakaknya memberi semangat, kami terus bergerak maju, pelan tapi pasti, pasir yang melapisi jalanan memang sangat mengganggu, disamping langkah jadi berat, kadang membuat kita merosot lagi kebawah, langkah pun tidak bisa panjang-panjang karena licin oleh pasir itu.

Akhirnya sampai juga di anak tangga pertama, tetapi sungguh mengejutkan, ternyata ini bukan anak tangga pertama, karena separuh dari keseluruhan anak tangga ini sudah terendam pasir, jadi sebenarnya kami sudah berada ditengah jalur tangga, jalur tangga inipun sampai puncaknya juga diliputi pasir sehingga harus hati hati menapakinya karena licin, beberapa beton pengaman disisi kiri kanan tangga juga hilang, sehingga sedikit menyusahkan perjalanan pendakian tangga karena tanpa pegangan, kami terus naik sampai akhirnya kami benar-benar berada dibibir kawah Bromo



Bibir kawah bromo yang sempit itu dibatasi oleh pagar beton setinggi dada orang dewasa, kini batas beton itu rata dengan tanah, yang merupakan timbunan dari muntahan erupsi Bromo tahun lalu, ini sungguh berbahaya bagi wisatawan, apalagi dinding kawahnya kini kelihatan amat curam, permukaan kawahnyapun menjadi sangat dalam (terjadi penurunan permukaan kawah) dan menyempit serta terlihat masih bergejolak, semoga pemda setempat segera membangun pagar yang baru demi keamanan dan kenyamanan wisatawan.



Angin kencang yang membawa pasir sangat menggangu pengunjung, jacket dan celana yang kami kenakan sudah penuh dengan pasir yang menempel, meskipun kami memakai masker dan selalu menutup mulut masih saja butiran pasir terasa diselala sela gigi, kadang secara tidak sengaja ketika gigi itu beradu, pasirnya terkunyah juga. Beberapa kali saya harus mengucek mata, sama, karena pasir, meskipun sudah melindunginya dengan kacamata.


Si Cantik beberapa kali terlihat melepas sepatu dan membuang pasir yang mengendap didalamnya. Debu pasir itu memang sangat mengganggu, tetapi tidak menghalangi atau mengurangi semangat kami untuk bercengkerama dengan Bromo....
Matahari sudah berada tepat diatas kami ketika kami turun kembali, anak anak puas dan Si Cantik bangga akhirnya ia sampai juga kepuncak Bromo dengan cara mendaki. Dan di dalam hati aku berjanji, aku akan mengunjungimu lagi... See You Bromo...


photo dan artikel oleh Muhammad Afif, dikisahkan untuk berbagi pengalaman perjalanan di ExploreBromo.com

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Wisata Bromo | info@explorebromo.com | supprort by MONSTER.WEB